Sering Merasa FOMO Ini 7 Cara Mengarahkannya ke Investasi Diri!
Read 5 Min
Melihat rekan sejawat menggunakan gadget terbaru atau momen liburan di media sosial sering kali memicu rasa cemas. Dorongan untuk ikut membeli barang yang sama agar tidak merasa tertinggal itu sebenarnya sangat manusiawi. Kondisi ini sering kita kenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out). Tentu saja, belanja atau mengapresiasi diri dengan barang yang kita inginkan itu tidak salah. Itu adalah hasil jerih payah yang layak dinikmati. Namun, akan lebih bijak jika kita tidak berhenti di sana.
Masalahnya, rasa senang dari konsumsi barang biasanya hanya bersifat sementara. Bagi kita yang ingin terus berkembang, setiap rupiah yang dikeluarkan sebenarnya adalah hal yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Lantas, dari mana sebenarnya perasaan cemas ini bermula? Sebelum kita membahas solusinya, mari kita pahami dulu akar dari fenomena ini.
Apa itu FOMO?
Istilah FOMO (Fear of Missing Out) pertama kali dipopulerkan oleh seorang penulis bernama Patrick J. McGinnis. Lewat artikelnya yang berjudul "Social Theory at HBS: McGinnis's Two FOs", ia menggambarkan fenomena kecemasan sosial ini saat mengamati perilaku rekan-rekannya di Harvard Business School yang selalu merasa cemas jika melewatkan acara sosial. Secara mendasar, arti FOMO adalah persepsi atau ketakutan bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga yang tidak kita alami. McGinnis menjelaskan bahwa ini bukan sekadar rasa iri, melainkan sebuah dorongan kuat untuk selalu hadir di setiap momen agar tidak tertinggal.
Mengapa Perasaan FOMO Harus Dikelola?
Jika dibiarkan tanpa kendali, FOMO bisa menjadi musuh terbesar bagi kesehatan finansial dan pertumbuhan kariermu. Berikut adalah alasan penting mengapa perasaan FOMO ini harus dikelola:
Mencegah Kebocoran Finansial:
FOMO sering kali menjadi pemicu belanja impulsif yang berkedok self-reward. Sering kali, rasa lelah bekerja dijadikan pembenaran paling ampuh untuk membeli segala hal yang kita inginkan. Akhirnya, gaji sering terkuras demi membeli makanan viral, barang limited edition, atau nongkrong di tempat mahal hanya demi validasi sosial agar terlihat "eksis". Bahayanya, gaya hidup ini sering kali tidak sejalan dengan pendapatan, sehingga banyak profesional muda yang terjebak utang kartu kredit atau layanan paylater yang mencekik. Jika tidak dikontrol, niat awal melakukan self-reward justru bisa berakhir menjadi penyesalan diri karena tabungan masa depan yang tergerus habis.
Menjaga Fokus pada Tujuan Pribadi:
Terlalu sibuk melihat "halaman rumput tetangga" membuat kita lupa menyiram rumput sendiri. Energi dan mental yang habis untuk membandingkan diri akan mengalihkan fokusmu dari tujuan karier yang sebenarnya. Mengelola FOMO berarti mengembalikan kendali hidup ke tanganmu sendiri, memastikan bahwa setiap keputusan, baik itu belanja maupun berkarier didasarkan pada nilai (value) diri, bukan tekanan eksternal.
Kelola FOMO dengan 7 Cara Pengembangan Diri
Alih-alih merasa insecure, coba arahkan fokusmu ke hal-hal positif yang bisa meningkatkan kualitas diri. Berikut adalah 7 cara investasi diri sendiri yang akan berguna dalam jangka panjang:
1. Cari "Tiket Masuk" ke Lingkaran Orang Hebat
Belanja pengalaman tidak harus selalu bersifat konsumtif. Sesekali, investasikan waktumu untuk masuk ke dalam ekosistem profesional yang lebih luas. Memiliki akses ke jaringan internasional, seperti mengikuti seminar global atau bernaung di bawah grup perusahaan berskala dunia, akan mengubah cara kamu memandang solusi bisnis. Di Danamon, hal ini bisa terwujud melalui jaringan MUFG Group. Lewat Global Exposure Program seperti talent swap atau penugasan jangka pendek ke entitas MUFG di Asia Tenggara hingga Jepang, kamu berkesempatan bertukar ilmu dan memperkuat jejaring profesionalmu di level internasional.
2. Kuasai Keahlian yang Sedang Dicari Industri
Barang yang kamu beli mungkin akan mengalami penurunan nilai, namun keahlian spesifik justru akan semakin bernilai seiring waktu. Alihkan fokusmu untuk menguasai teknologi atau metode kerja baru yang relevan dengan kebutuhan industri. Namun, belajar teori saja tidak cukup. Kamu butuh lingkungan yang mendukung pertumbuhan tersebut. Di Danamon, hal ini diwujudkan melalui program "Own Your Future". Lewat program ini, karyawan akan diberikan berbagai pelatihan (training) di Danamon Corporate University yang secara khusus bertujuan untuk meningkatkan value dan kompetensi mereka agar siap menghadapi tantangan industri.
3. Bangun Fondasi Karier Sejak Dini
Bagi kamu yang masih merintis jalan, investasi waktu yang paling berharga adalah pada pengalaman praktis di lapangan. Rasa takut tertinggal paling baik dijawab dengan terjun langsung ke industri yang terus berkembang pesat. Mengambil program magang (internship) memungkinkanmu memahami realitas kerja dan membangun portofolio sejak dini. Ini adalah aset yang akan mempermudah langkahmu dalam menghadapi kompetisi di dunia kerja nantinya.
4. Jaga Kesehatan Mental dan Kapasitas Berpikir
Investasi diri tidak selalu soal skill teknis. Investasi diri juga bisa diarahkan untuk perkembangan pemikiran dan mental. Mengalokasikan dana untuk sesi konsultasi profesional, langganan aplikasi meditasi, atau membeli buku-buku favoritmu adalah langkah bijak. Seorang profesional yang memiliki emosi stabil dan pikiran yang jernih akan jauh lebih efektif dalam mengambil keputusan besar dibandingkan mereka yang terus-menerus kelelahan secara mental akibat mengejar tren.
5. Belajar Cara "Menjual" Ide dengan Percaya Diri
Memiliki ide cemerlang sering kali tidak cukup jika kita gagal membuatnya dipahami oleh orang lain. Mengalokasikan waktu untuk belajar cara berkomunikasi atau bernegosiasi adalah investasi yang hasilnya akan terasa di setiap tahap kariermu. Kemampuan untuk menjelaskan pemikiranmu adalah cara terbaik agar kontribusimu terlihat dan tidak berhenti sebagai rencana pribadi saja. Saat kamu mampu menyederhanakan ide yang rumit menjadi sesuatu yang menarik, kamu akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari rekan kerja maupun pemegang keputusan untuk mewujudkannya.
6. Jaga Ketahanan Fisik dan Performa
Dunia profesional membutuhkan stamina yang stabil untuk menghadapi berbagai tantangan jangka panjang. Salah satu contoh mengembangkan kemampuan diri adalah menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, pastikan fokus utamanya untuk membangun daya tahan tubuh agar fokus tetap terjaga dan tidak cepat lelah saat menghadapi tanggung jawab besar. Memiliki fisik yang prima adalah investasi yang bijak agar kamu bisa terus produktif dan menjaga kualitas kerja dalam situasi apa pun.
7. Ambil Keputusan untuk Diri Sendiri
Cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas tertinggal adalah dengan memiliki rencana karier yang jelas dan terarah. Alih-alih menghabiskan waktu membandingkan pencapaian dengan orang lain, lebih baik kamu fokus memilih lingkungan kerja yang dapat mengakselerasi potensimu. Salah satu langkah strategis yang bisa kamu ambil adalah bergabung dengan program pengembangan karier yang terstruktur seperti Danamon Bankers Trainee (DBT).
Melalui program ini, kamu tidak hanya menjalankan rutinitas pekerjaan biasa, tetapi kamu benar-benar berinvestasi waktu untuk ditempa menjadi seorang pemimpin yang kompeten. Ketika kamu memiliki jalur karier yang jelas dan terus berkembang setiap harinya, perasaan FOMO tersebut akan hilang dengan sendirinya karena kamu yakin bahwa kamu sedang bergerak maju menuju tujuanmu. Kamu juga mendapat banyak benefit dari program ini.
Jadikan FOMO sebagai Pengembangan Diri
Banyak profesional sukses memiliki apa yang disebut internal locus of control, yakni keyakinan bahwa pusat kendali hidupnya adalah dirinya sendiri. Mereka tidak menunggu instruksi atau jatah pelatihan dari kantor untuk berkembang. Saat kamu secara sadar mengalokasikan sumber daya untuk pertumbuhan diri, kamu sedang melatih kemampuan diri dan tidak lagi didikte oleh keadaan.
Sikap proaktif inilah yang membantu seseorang untuk terus melaju ke level yang lebih baik. Dengan kesadaran penuh bahwa investasi terbaik bukan hanya pada apa yang bisa dibeli hari ini, kamu sedang memperkuat kapasitas diri untuk menyambut peluang dan menaklukkan tantangan yang lebih besar di masa depan.